Tujuan
Dr. Basuki dan Dr. Eko menulis tulisan di atas adalah untuk
meluruskan apa yang telah diberitakan oleh media di Indonesia yang
menyebut Dr.
Khoirul sebagai penemu 4G LTE. Penulis berpendapat bahwa ada
kesalahan pahaman pada wartawan pada beberapa media di Indonesia yang
menyebutkan bahwa penemu 4G LTE adalah seorang ilmuwan dari
Indonesia. Kesalahan tersebut terus berlanjut hingga forum 3GPP
berlangsung, ada sebuah candaan bahwa seorang ilmuwan Indonesia
adalah penemu dari 4G. Namun, orang yang bersangkutan tidak diketahui
eksistensinya sebagai seorang penemu teknologi 4G. Dan secara tidak
langsung, candaan tersebut telah merendahkan martabat bangsa
Indonesia di bidang telekomunikasi dunia. Dari situlah, Dr. Basuki
dan Dr. Eko mencoba meluruskan menegenai penemu 4G dan menyinggung
yang bersangkutan.
Namun,
di sisi lain terdapat sedikit arogansi penulis pada tulisan
“Sepanjang
kariernya telah menghasilkan puluhan patent berkaitan dengan aspek
implementasi dan spesifikasi LTE”. (Dr.
Basuki)
dan
“Dr.
Onggosanusi adalah seorang penemu yang memegang banyak paten di
bidang LTE, baik spesifikasi maupun implementasi”. Menurut
saya, penulis tidak perlu mencantumkan pernyataan tersebut sebagai
penegasan bahwa penulis telah berkontribusi aktif dalam penelitian 4G
LTE. Karena jika pembaca artikel merupakan seorang akademisi atau
praktisi telekomunikasi
pasti
akan mencari tahu kontribusi apa saja yang telah disumbangkan oleh
penulis.
Penulis
berpendapat bahwa penemuan Dr. Khoirul bukanlah penemuan yang baru
dan mirip sekali dengan penemuan Profesor Hermann Rohling dan
mahasiswanya pada tahun 2002. Penulis juga berpendapat bahwa hasil
penemuan Dr. Khoirul merupakan penemuan yang digunakan pada sistem
satelit, dan merupakan variasi dari metode yang digunakan 4G, dengan
refrensi artikel Kompas pada 12 Desember 2014. Di sinilah titik asal
terjadinya kesalahpahaman di antara penulis dengan Dr. Khoirul.
Seperti yang dikutip dari artikel Kompas pada tanggal 12 Desember
2014 dan blog pribadi milik Dr. Khoirul, awalnya
penemuan beliau memang digunakan untuk keperluan satelit yang
memerlukan daya yang efisien mengingat sumber daya yang dimiliki oleh
satelit hanya panel surya.
Namun,
beliau juga memprediksi bahwa secarateori temuannya dapat digunakan
pada sistem 4G. Dan prediksi beliau pun benar, ITU menjadikan
penemuan beliau sebagai prinsip dasar dari teknik SC-FDMA yang
digunakan sebagai uplink
pada
4G. Dalam blog pribadi milik Dr. Khoirul pun, disebutkan bahwa beliau
tidak pernah menyebut dirinya sebagai penemu 4G dan dalam setiap
seminar yang diisi oleh beliau, beliau selalu mngoreksi bahwa dirinya
bukan penemu 4G.
Dalam
artikel detiknet yang berjudul Khoirul Anwar Luruskan Polemik 'Penemu
4G LTE',
beliau
bercerita mengenai perjalanan hasil temuannya untuk mendapatkan paten
sangat berliku. Hasil penemuannya beberapa kali dikatakan mirip
dengan hasil penemuan sebelumnya oleh reviewer.
Dengan
dijadikannya hasil penemuan beliau menjadi standar internasional
ITU, tidak ada lagi reviewer
yang
protes terhadap hasil temuannya.
Beliau
juga menegaskan, jika hasil temuannya bukan paten baru, maka tidak
akan dijadikan standar ITU.
Kesimpulan
yang dapat diambil dari artikel di atas adalah kesalahan kecil dalam
pemberitaan media dapat berakibat fatal yang berdampak pada nama baik
bangsa dan negara.
Sumber:
Comments
Post a Comment